“Putri Oda yang terus dipermainkan siasat politik. Jika kau memperlakukannya sebagai manusia, ia akan menunjukkan satu-satunya hal yang masih dapat dipilih perempuan di zaman perang.”
Kisah hidup
Adik Oda Nobunaga
Ambisi
Mempertahankan kebanggaan luhur sebagai putri Oda dan menyelamatkan nyawa ketiga putrinya dari kobaran zaman perang.
Pernikahan politiknya dengan Azai Nagamasa tumbuh menjadi ikatan kasih yang mendalam. Meski takdir kejam mencabik-cabiknya karena kakaknya, Nobunaga, berperang melawan suaminya, tugasnya sebagai ibu adalah melindungi masa depan putri-putrinya.
Jika Kastel Odani atau Kastel Kitano-shō jatuh, ia dan putri-putrinya akan ditangkap musuh dan tak akan luput dari kematian.
- Serangan besar kakak kandungnya, Oda Nobunaga, terhadap keluarga Azai dan bunuh diri suaminya, Nagamasa.
- Kecurigaan terhadap Hideyoshi yang tak pernah hilang dan ancaman jatuhnya Kastel Kitano-shō.
- Nasib kejam sebagai putri yang terus dijadikan alat siasat politik para daimyo.
Watak dan keyakinan
Ketiga putrinya bersama Azai Nagamasa—Chacha, Hatsu, dan Oe—serta kebanggaannya sebagai keturunan Oda.
Duka yang tak pernah hilang saat Kastel Odani jatuh, suaminya Nagamasa dan putra sulungnya Manpukumaru dieksekusi dengan kejam oleh kakaknya, Nobunaga.
Masa depan ketiga putrinya yang tetap tegar meski terus dipermainkan takdir kejam.
Tunduk kepada Hideyoshi, pembunuh suaminya, lalu hidup sebagai selir demi menyelamatkan nyawa dan menanggung malu.
Jejak sejarah
Bab terakhir
1583 (wafat pada usia 37 tahun)Pada tahun Tenshō ke-11, setelah kalah dalam Pertempuran Shizugatake, ia bertahan di menara Kastel Kitano-shō di Echizen bersama Shibata Katsuie. Setelah mengantar ketiga putrinya dengan selamat kepada Hideyoshi, ia bunuh diri bersama Katsuie. Mereka membakar menara lalu lenyap di tengah kobaran api. Ia berusia 37 tahun.
“Dipuji sebagai wanita tercantik zaman Sengoku, ia dua kali melihat kastel dikepung musuh dan menyaksikan kedua suaminya bunuh diri. Ia mengorbankan nyawanya sendiri demi menyelamatkan ketiga putrinya, yang kelak menguasai puncak Toyotomi dan Tokugawa serta mengubah nasib negeri.”