Sengoku UkiyoSengoku Ukiyo
日本語
Unduh gratis
← Kembali ke daftar tokoh Para perempuan di era perang
Nohime Nene
Oichi
Wanita Tercantik Zaman Sengoku

Oichi

Para perempuan di era perang
Oichi
Masa hidup 1547–1583 (wafat pada usia 37 tahun)
Gelar Wanita Tercantik Zaman Sengoku
Kubu Para perempuan di era perang
Tempat yang terkait dengan tokoh ini Ōmi (1567–1573), Owari (1574–1581), Echizen (1582–1583)
Gaya bicara dan kutipan Bertutur anggun seperti putri wilayah Kinai, sopan dan penuh makna; saat baru menikah ia sedikit bicara dan berhati-hati.
Keluarga Adik kandung Nobunaga. Ia menikah dengan Azai Nagamasa dan melahirkan tiga putri. Setelah keluarga Azai musnah ia menikah lagi dengan Shibata Katsuie. Ia dipuji sebagai ‘wanita tercantik pada zaman Sengoku’.

“Putri Oda yang terus dipermainkan siasat politik. Jika kau memperlakukannya sebagai manusia, ia akan menunjukkan satu-satunya hal yang masih dapat dipilih perempuan di zaman perang.”

Kisah hidup

Adik Oda Nobunaga

Ambisi

Mempertahankan kebanggaan luhur sebagai putri Oda dan menyelamatkan nyawa ketiga putrinya dari kobaran zaman perang.

Pernikahan politiknya dengan Azai Nagamasa tumbuh menjadi ikatan kasih yang mendalam. Meski takdir kejam mencabik-cabiknya karena kakaknya, Nobunaga, berperang melawan suaminya, tugasnya sebagai ibu adalah melindungi masa depan putri-putrinya.

Jika Kastel Odani atau Kastel Kitano-shō jatuh, ia dan putri-putrinya akan ditangkap musuh dan tak akan luput dari kematian.

Rintangan zaman
  • Serangan besar kakak kandungnya, Oda Nobunaga, terhadap keluarga Azai dan bunuh diri suaminya, Nagamasa.
  • Kecurigaan terhadap Hideyoshi yang tak pernah hilang dan ancaman jatuhnya Kastel Kitano-shō.
  • Nasib kejam sebagai putri yang terus dijadikan alat siasat politik para daimyo.

Watak dan keyakinan

Sumber ambisi

Ketiga putrinya bersama Azai Nagamasa—Chacha, Hatsu, dan Oe—serta kebanggaannya sebagai keturunan Oda.

Titik balik hidup

Duka yang tak pernah hilang saat Kastel Odani jatuh, suaminya Nagamasa dan putra sulungnya Manpukumaru dieksekusi dengan kejam oleh kakaknya, Nobunaga.

Cara memperlakukan orang

Masa depan ketiga putrinya yang tetap tegar meski terus dipermainkan takdir kejam.

Batas yang tak akan ia langgar

Tunduk kepada Hideyoshi, pembunuh suaminya, lalu hidup sebagai selir demi menyelamatkan nyawa dan menanggung malu.

Jejak sejarah

1567–1569
Istri sah Oda yang dinikahkan ke keluarga Azai di Ōmi atas perintah kakaknya.
“Bertutur anggun seperti putri wilayah Kinai, sopan dan penuh makna; saat baru menikah ia sedikit bicara dan berhati-hati.”
1570–1573
Nyonya Azai yang terjepit antara permusuhan kakak dan suaminya serta menggendong putri ketiga.
“Logat putri wilayah Kinai terdengar lebih rendah; ia memilih kata-kata dengan hati-hati saat menyebut kakak dan suaminya.”
1574–1581
Janda yang kembali kepada keluarga Oda bersama tiga putrinya dan hidup di bawah perlindungan kakaknya.
“Ia semakin sedikit bicara dengan logat putri wilayah Kinai; lembut kepada ketiga putrinya dan bersikap datar kepada orang lain.”
1582–1583
Istri kedua yang dinikahkan dengan Shibata Katsuie setelah Konferensi Kiyosu, lalu bertahan di Kitano-shō.
“Ia bertutur tenang dengan logat putri wilayah Kinai; setiap kata perpisahannya terdengar seperti pesan terakhir.”

Bab terakhir

1583 (wafat pada usia 37 tahun)

Pada tahun Tenshō ke-11, setelah kalah dalam Pertempuran Shizugatake, ia bertahan di menara Kastel Kitano-shō di Echizen bersama Shibata Katsuie. Setelah mengantar ketiga putrinya dengan selamat kepada Hideyoshi, ia bunuh diri bersama Katsuie. Mereka membakar menara lalu lenyap di tengah kobaran api. Ia berusia 37 tahun.

Ia melantunkan puisi perpisahan, ‘Bahkan malam musim panas yang seharusnya singkat mengundang perpisahan; burung tekukur pun menyanyikannya,’ lalu membiarkan Katsuie mengakhiri hidupnya.
“Dipuji sebagai wanita tercantik zaman Sengoku, ia dua kali melihat kastel dikepung musuh dan menyaksikan kedua suaminya bunuh diri. Ia mengorbankan nyawanya sendiri demi menyelamatkan ketiga putrinya, yang kelak menguasai puncak Toyotomi dan Tokugawa serta mengubah nasib negeri.”